"Sènga' ekèco' bi-ibi bâ'na, yâ!"
Awas diculik bi-ibi kamu, ya!
"Jhâ' lem-malem, mon la para' adân maghrib, dhuli molè, manna èyerrep bi-ibi."
Jangan larut malam, kalau sudah hampir azan maghrib, segera pulang, nanti diculik (disembunyikan) bi-ibi.
"Jhâ' u-jhâu mon amaèna, bi-ibi ngètek neng è ombhut."
Jangan terlalu jauh kalau main, bi-ibi sembunyi di balik semak.
"Jhâ' amaènan kadhibi'ân, bi-ibi lèbur no'-ngono'è na'-kana' á¸Ã¢ri á¸Ã¢lem perrèng."
Jangan suka bermain sendirian, bi-ibi suka ngintip anak dari dalam rimbun bambu.
egitu kira-kira orang tua di Madura jaman doeloe sering mengingatkan anak-anaknya sebelum berangkat bermain. Termasuk penulis yang lahir tahun 1987.
Paramaos yang hidup di era 1990-an ke bawah pasti tahu ini. Bahwa dalam Bahasa Madura, Bi-ibi adalah nama mahluk halus yang konon dipercaya sebagai penghuni rimbunan bambu.

