Pada bulan 20 Oktober 1947, Halim Perdana Kusuma dengan pesawat udara mengangkut bantuan senjata, sandang dan uang dari Yogyakarta untuk tentara pejuang di Sumenep.
Pesawat udara meraung-raung di atas kota dan menurunkan delapan buah parasut membawa senjata, sandang dan uang sebesar Rp. 5.000.000,- diterjunkan di Pangligur, Pabian Sumenep, bersama dengan Mayor R. Abujamal dan Kapten R. Ach. Hafiluddin.
Tanggal 14 Desember 1847, pesawat Afro Anson milik Republik Indonesia yang dikemudikan oleh Komodor Iswahyudi dan Komodor Halim Perdana Kusuma kembali dari Muang Thai singgah di Singapura untuk mengambil obat-obatan.
Tapi waktu itu, datang kabut tebal dengan angin sangat kencang, Komodor Iswahyudi mengambil inisiatif untuk mengadakan pendaratan darurat dengan mencari tanah yang datar.
Ketika sampai di Labuhan Bilik Besar di Pantai Lumut, diadakanlah pendaratan darurat, tapi pesawatnya menghantam pohon besar dan meledak hingga hancur.
Keduanya gugur sebagai kusuma bangsa, nasib Iswahyudi tidak diketahui, dan Halim Perdana Kusuma ditemukan di Tanjung Hantu Labuhan Bilik Besar Malaysia dan di makamkan oleh Cikgu Zainal Abidin.
Pada tanggal 15 Pebruari 1961 Presiden Republik Indonesia atas nama pemerintah menganugerahkan “Bintang Maha Putra kelas IV†sampai saat ini masih tersimpan dengan baik. Tanggal 13 Agustus 1975 Presiden Republik Indonesia menganugerahi gelar “Pahlawan Nasional†atas jasa-jasanya terhadap negara dan bangsa Indonesia khususnya dalam pembinaan dan pertumbuhan Angkatan Udara Republik Indonesia.
Sumber / Referensi:
- Brigjen Abdullah, 1971, Sejarah Perjuangan di Madura, Badan Arsip Nasional
- Drs Abdurrahman, 1972, Madura Selayang Pandang, The Sun
- H Mustaji, BA. & Didik Hadijah HS, 1988, Perjuangan Rakyat Madura, Agung Karya Perkasa
- Soenarto Hadiwidjojo, 1950, Resume Panitia Lembaga Monumen Revolusi 1945, Badan Arsip Nasional,
- Sulaiman, 1993, Masalah Pokok Sarasehan, Dewan Harian Cabang Angkatan 1945, ~ Tadjul Arifien R, 2022, Perjuangan Rakyat Sumenep, Pustaka INDIS

