Mereka berkejaran dengan waktu, karena Belanda yang membonceng Sekutu akan bisa merebut kembali Nusantara karena dianggap rampasan perang dari Jepang atas kekalahannya. Indonesia harus segera berdaulat, namun untuk merumuskan konsep negara sebesar ini tidaklah mudah.

Untungnya, ada Kakawin Sutasoma yang telah menggambarkan model Negara Berdaulat: Majapahit—sebagai konsep serta pedoman utama dalam berbangsa dan bernegara. Dari perjalanan gelap terangnya bangsa bernegara, Pahlawan kita sesegera mungkin menyerap inspirasi dari jejak Majapahit.


BACA JUGA:


Sejumlah warisan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika; Dasar kekuatan perjuangan dalam kewelas-asihan, pengorbanan, dan kesatuan atas keberagaman. Pada 29 Mei 1945 Moch Yamin menyatakan konsep kebangsaan dan kenegaraan yang akan dirumuskan adalah Indonesia ke 3, setelah Sriwijaya dan Majapahit. Sesegera Ir. Soekarno memilah rumusan yang terinspirasi dari  jejak Sriwijaya dan Majapahit tersebut untuk mengusung tema konsep kebangsaan dan kenegaraan. Kesatuan atas semua keberagaman, bahasa, suku, ras, dan adat budaya: Binneka Tunggal Ika!
  2. Pancasila dari kitab Kakawin Sutasoma (1369 M), pupuh CXLV,2 yg berbunyi: Bwat Bajrâyana pancasila ya gegen denteki halwalupa, yang artinya: Ajaran Vajrayana janganlah pernah meninggalkan ajaran lima moralitas.
  3. Nama Nusantara sebagai penampung keberagaman. Nama Nusantara sudah ada sejak zaman Singhasari dalam prasasti Mula Malurung. Dicetuskan oleh Prabu Kertanegara dalam gagasan Cakrawala Dwipantara sebagai tema ekspansi kekuasaan dan dilanjutkan Mahapatih Gajah Mada beserta Sri Ratu Dyah Tribwana Tungga Dewi (Ratu  ke III Majapahit) dalam nama Nusantara. Nama ini dimunculkan kembali pada Kongres Pemuda th 1928 oleh Ki Hajar Dewantara. Walau tidak dijadikan nama resmi negara, Nusantara tetap dipakai sebagai nama yang merujuk kepada luasnya wilayah dan keberagaman negara kita satu paket dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
  4. Sang Saka Merah Putih; selain melambangkan arti merah sebagai keberanian dan putih sebagai kesucian, lambang merah putih sudah menjadi dasar legitimasi nagara Majapahit dan sudah pernah dikibarkan di era Singhasari. Tercatat pada prasasti Kudadu dan Serat Pararaton yang dikeluarkan Dyah Wijaya di kala bertempur melawan pasukan Jayakatwang (Daha). Sebelumnya, lebih jauh lagi, lambang saka merah putih dalam jejak ajaran jawa kuno dipakai untuk simbol biyung (ibu/pratiwi)  dan bopo (ayah/angkasa)—merah lambang darah dan putih lambang mani (kama bang dan kama pethak), sebagai hakikat awal mula keberadaan manusia/jabang bayi, dimana sampai sekarang, masih dipakai dalam tradisi selamatan hari lahir, konsep Jenang Sengkala. Ada yang bilang bendera kita adalah hasil dari sobekan bendera Belanda yang dihilangkan warna birunya. Ya boleh saja meyakini itu, tapi kalau itu yang diyakini, tentu kita Indonesia tak akan diterima oleh Dunia, karena warna bendera merah putih sudah dipakai Negara Monako mulai tahun 1881. Nah, untungnya para pahlawan kita mampu menegaskan bahwa kita adalah bangsa yang sudah pernah ada, dan berdiri lebih dulu dengan legitimasi Majapahit, setidaknya merah putih ini sudah ada sejak tahun 1292 Masehi.
  5. Garuda/Garudeya merupakan kendaraan Betara Wisnu, sebagai lambang semangat persatuan, kewibawaan, dan kedaulatan. Kisah Garudha ini sudah banyak dipahatkan di candi-candi era Singhasari dan Majapahit, seperti candi Kidal, Sukuh, dan Cetha. Maka ketika sidang BPUPKI th 1945 guna menyusun UUD sebagai konstitusi negara maka ditetapkanlah Garuda sebagi lambang negara kita.

Nah, apa sih kaitannya kemerdekaan bangsa kita dengan eksistensi Majapahit dan Sriwijaya?

Pahlawan kita telah membuktikan, bahwa Indonesia bukanlah wilayah tak beradab/berbudhi, yang kemudian diberadabkan oleh Belanda maupun negara asing lainnya, sehingga bisa dikuasai para kolonialis seperti yang terjadi di Amerika dan Australia. Justru, eksistensi Majapahit sebagai kerajaan yang pernah berdaulat telah memperkuat bangsa Indonesia agar berdaulat, tidak menjadi bangsa yang dianeksasi oleh bangsa lain.

Indonesia berhak menuntut Dunia Internasional untuk mengakuinya. Inilah pentingnya memahami sejarah jejak leluhur kita. Majapahit telah menjadi jangkar peradapan puncak kejayaan klasik sejarah perjalanan bangsa kita.  Bukti keberadapan dan kejayaan tercatat pada guratan Kakawin Desawarnana:

"

Bhrastang durjana sunya kaya kumeter mawedi giri- giri, de sri Rajasa rajabhupati sang angdiri  ratu ri Jawa, suddambek sang asewa tan salah asing pawarah ira tinut, sok wiradhika mewu yeka magawe resa ning ari teka. Ramyang sagara parwwateki saka punpunan  i sira lengong.

" (Pupuh CXLVII: 1- 4)

Terbukti, kerajaan Majapahit telah mewarisi sikap budhi sebagai penyokong keeksistensian di masanya dengan mengedepankan: