Kalau orang Madura menyebut kawannya "badenggung", maka yang ditunjuk bukan sekadar tolol, melainkan seperti Bagong—tokoh pewayangan anak Semar—yang licik, jenaka, tapi penuh tipu muslihat.

Dalam dunia wayang, Semar adalah punakawan yang sarat kebijaksanaan, sering menjadi penasihat para ksatria, berwajah lucu namun hatinya luhur. Tapi Bagong? Ah, ia adalah putra yang keblinger. Gaya bicaranya blak-blakan, sikapnya seperti badut istana yang tak tahu tempat.

Tapi, jangan remehkan—sebagaimana dicatat oleh Ben Anderson dalam Wayang and Power, tokoh seperti Bagong justru digunakan untuk menyampaikan kebenaran yang tak sanggup diucapkan oleh para ksatria. Di situlah keluguan menjadi senjata.

Jadi saat orang Madura berkata “O… Badenggung reh!”, itu adalah peringatan. Bahwa yang kau lakukan sudah kelewat Bagong. Sudah cukup menjadi cermin retak yang memantulkan kegilaan dunia dengan tawa palsu. Seperti Bagong yang bisa membuat Batara Guru kehabisan akal, orang “badenggung” kadang justru mengacaukan tatanan karena mengabaikan nalar dan tata.

Ya, “badenggung” jangan dimaknai makian. Ia adalah sapaan budaya. Sebuah kritik sosial yang dikemas dalam kelakar.

Sayangnya, di zaman ketika kata-kata kian sopan tapi niat kian busuk, kosakata seperti ini dianggap usang. Kita lebih suka emoji marah daripada menyebut kawan kita "badenggung" dengan nada geli.

Seharusnya, “badenggung” kita pertahankan. Biar generasi TikTok tahu bahwa Madura punya caranya sendiri dalam menyampaikan sindiran. Dan siapa tahu, suatu hari, ketika kita kehabisan kata untuk menertawakan dunia yang kian absurd ini, kata itu pun kembali: “O... Badenggung reh!” — dan kita pun tahu bahwa Bagong belum pensiun. ***