TARÈKA, DIMADURA – Banyak orang tak sadar akan ancaman bahaya gorengan dan makanan ultraproses yang kerap dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Dalam perbincangan bersama artis Nikita Willy di sebuah podcast, salah seorang dokter senior nasional, Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum., menyoroti rendahnya angka harapan hidup di Indonesia yang salah satunya disebabkan oleh kebiasaan makan yang salah.
“Kenapa angka harapan hidup orang Indonesia rendah? Karena gorengan!†kata Dr. Tan tegas.
Menurutnya, menggoreng tidak hanya mengubah kualitas lemak, tetapi juga mengubah kandungan baik dalam makanan menjadi senyawa berbahaya.
Ia mencontohkan ikan kembung yang kaya Omega-3 bisa kehilangan manfaatnya jika digoreng.
“Omega-3-nya malah berubah jadi trans fat. Ditambah lagi dengan proses menggoreng, kita menghasilkan senyawa baru seperti akrilamida dan polycyclic aromatic hydrocarbons, yang merupakan karsinogen,†jelasnya.
Lebih lanjut, Dr. Tan membandingkan pola makan orang Indonesia dan Jepang. Meski sama-sama hidup di negara kepulauan dengan laut yang luas, angka harapan hidup di Jepang jauh lebih tinggi.
“Orang Jepang bisa hidup sampai 90 tahun, kita umur 40 sudah minum obat kolesterol dan hipertensi,†katanya. Penyebabnya? “Iwak-e digoreng!†ujarnya dengan nada satir.
Dokter Tan juga menyayangkan minimnya konsumsi makanan tradisional yang sebenarnya lebih sehat.
Ia menyebut berbagai hidangan dari Sabang sampai Merauke seperti arsik, naniura, pindang, pepes, dan kuah asam sebagai contoh makanan yang minim proses namun kaya gizi.

