Semua “sedikit”. Selalu sedikit. Seakan-akan kemanusiaan di daerah operasi hanya layak mendapat serpihan, bukan perhatian.

Di Mana Kemanusiaan dalam PPM & CSR?

PPM dan CSR bukan sekadar formalitas regulasi. Ia adalah cara perusahaan membuktikan bahwa manusia lebih penting daripada grafik produksi.

Tetapi yang terjadi, HCML dan Medco lebih terlihat seperti pengunjung pesta yang makan banyak, minum banyak, lalu pulang hanya meninggalkan kuitansi fotokopi untuk panitia lokal.

Sementara masyarakat nelayan, warga pesisir, anak-anak sekolah, dan para pekerja informasi, dibiarkan menjadi penonton yang menunggu janji yang tak pernah turun dari anjungan.

Penulis jadi penasaran akan satu hal:

Apakah sebegitu sulitnya 2 raksasa itu, misal, memberikan beasiswa berkelanjutan, pelatihan vokasi jangka panjang, pemberdayaan ekonomi berbasiskan komunitas, penguatan kapasitas jurnalis lokal, atau sebatas dukungan riset sosial lingkungan?

Tidak! Yang sulit justru kesadaran korporat untuk melihat masyarakat terdampak sebagai manusia yang layak diperjuangkan, bukan sekadar peta operasi.

Rumah Kami Sumenep Bukan “Zona Penyangga”

Ironisnya, produksi migas Sumenep dipakai sebagai bahan pidato dalam konferensi nasional, sebagai simbol ketahanan energi, sebagai cerita sukses industri ekstraktif.

Tetapi Sumenep sendiri seperti ruang belakang panggung. Penting, tetapi tidak dianggap perlu dirawat.

Media lokal nyaris tak terdengar dalam dokumen CSR mereka. Padahal media adalah penjaga suara masyarakat. Jika media lokal tidak diperkuat, siapa yang akan mengawas, merekam, dan mengkritisi dampak kegiatan industri?