Pernyataan bahwa kehidupan tak salah, kitalah yang mesti menyaring, sejalan dengan ajaran tasawuf tentang ridha dan muhasabah.
Bahwa hidup adalah kehendak Tuhan, sementara manusia diuji pada caranya membaca dan menyikapi realitas.
Puncaknya, pengakuan “diri tak kaya, tapi hati semoga bersih†mencerminkan maqam zuhud; melepaskan ketergantungan pada dunia tanpa meninggalkan tanggung jawab di dalamnya.
Bahasa Madura sebagai Etika Hidup
Secara sosio-linguistik, puisi ini menunjukkan fungsi bahasa Madura sebagai penjaga nilai moral dan sosial.
Pilihan kata seperti tarètan (saudara) dan frasa tennang, sabbhâr, tor ngastètè (tenang, sabar, dan mawas diri) mencerminkan etika hidup masyarakat Madura yang menekankan pengendalian diri dan kesadaran sosial.
Pengulangan rajâ atè dalam puisi di atas saya kira berfungsi sebagai peneguhan kolektif (semacam mantra budaya), bahwa kebesaran manusia tidak melulu diukur dari suara keras atau kuasa lahiriah, melainkan dari keluasan hati.
Menariknya, puisi ini ditulis oleh seorang anggota kepolisian, sehingga menghadirkan ironi yang indah: otoritas formal disandingkan dengan kerendahan hati spiritual.
Bahasa lokal dalam puisi ini tidak menyempitkan makna, justru memperdalamnya. Ia menjadi jembatan antara pengalaman personal, kearifan lokal, dan pesan universal tentang kemanusiaan.
Bagi saya, "Rajâ Atè" yang ditulis Amri ini adalah puisi tentang keberanian yang paling sunyi. Ya, keberanian untuk tetap bersih, tenang, dan lapang di tengah gelombang kehidupan.
Ia mengingatkan bahwa untuk bisa berbesar hati tidak semudah membalikkan telapak tangan, kita dituntut sanggup menjaga kejernihan jiwa di hadapan sesama dan di hadapan Tuhan. ***

