Dari hubungan itu, masyarakat Persia memiliki kedekatan emosional terhadap tragedi Karbala. Ikatan tersebut muncul dalam tradisi peringatan Asyura di Iran dan menjelaskan mengapa ekspresi duka mereka sedemikian kuat.
“Dulu Parsi itu penyembah api atau Majusi. Makanya negara masa lalu yang pertama kali membuat mercon itu Parsi, atau Persia,†katanya.
Ia menambahkan, bahwa kecanggihan teknologi Persia kuno menjadi dasar bagi berkembangnya rekayasa bahan peledak. “Makanya kalau keturunannya pinter bikin rudal itu jangan kaget. Karena dulu Parsi itu pertama kali membuat mercon,†ujarnya.
Persia Majusi pada masa itu memiliki bangunan tinggi untuk meletakkan api suci. Bangunan tersebut menjadi prototipe arsitektur yang kemudian terserap dalam peradaban Islam.
“Bangsa Persia dulu menyembah api. Nah, api majusi itu ditaruh di bangunan tinggi. Tinggi sekali, yang disebut Manaro.â€
Setelah Raja Rustum memeluk Islam, bangunan itu tidak lagi digunakan sebagai tempat pemujaan. Fungsinya berubah, namun bentuk dasarnya tetap dipertahankan dan berdiri di depan masjid.
“Ketika Raja Rustum itu masuk Islam, tidak lagi menyembah api. Apinya ditinggalkan tapi, Manaronya ditaruh di depan masjid. Nah akhirnya masjidnya orang Parsi punya Manaro. Semua orang melihat Manaro di depan masjid.â€
Dari sanalah bentuk menara menyebar ke berbagai negeri muslim, termasuk wilayah Nusantara.
“Itu bagus. Maka kemudian Manaro diduplikasi, dicontoh oleh seluruh kaum muslimin, sampai di Cilegon namanya Menara. Maks Menara itu sebenarnya adalah sumbangsih peradaban Parsi.â€
Kedekatan Persia dengan keluarga Rasulullah kembali tampak pada cara masyarakat Syiah Iran mengekspresikan duka mereka pada setiap peringatan Asyura.

