“Mulai dari permohonan kredit, kami melakukan survei ke lokasi usaha, pemberkasan, dan jika ada kekurangan data maka debitur diminta melengkapinya,” jelas Rahmad, sebagaimana dilansir Suara Indonesia (31/1/2025).

Pernyataan tersebut disampaikan setelah adanya laporan sejumlah pemuda yang tiba-tiba menerima tagihan pinjaman hingga Rp100 juta, meski mereka mengaku tidak pernah mengajukan KUR.

Para korban mengungkap bahwa sebelumnya mereka dijanjikan bonus Rp1 juta oleh oknum berinisial RAZ dan diajak ke Bank Jatim tanpa mengetahui identitas mereka digunakan untuk pengajuan kredit.

Setahun kemudian, petugas bank datang menagih pinjaman yang tak mereka ketahui, sebuah dugaan penyimpangan yang berpotensi merugikan hingga ratusan juta rupiah.

***