Ia meminta komunikasi keluarga dan madrasah diperkuat. Persoalan pendidikan anak, menurut Quraisyi, sebaiknya dibicarakan bersama antara orang tua dan sekolah ketimbang berkembang menjadi narasi yang tidak jelas di luar lingkungan Al-Huda.

Pendidikan Bermula dari Rumah

Sementara itu, Kadisdik Mohamad Iksan, saat sambutan menyampaikan, bahwa keberhasilan pendidikan anak membutuhkan keterlibatan keluarga. Sekolah menurutnya tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan pola pengasuhan yang baik di rumah.

“Pendidikan anak tidak selesai di sekolah. Orang tua punya peran sangat besar karena rumah adalah tempat pertama anak belajar, membentuk karakter, dan menemukan kepercayaan dirinya,” kata Iksan.

Ia berharap orang tua membangun komunikasi yang baik dengan anak dan sekolah. Target akademik, kata dia, juga perlu mempertimbangkan kemampuan dan potensi masing-masing anak.

“Jangan sampai keinginan kita melihat anak berhasil justru menjadi tekanan bagi mereka. Tugas kita adalah mendampingi, memberi ruang, dan membantu anak berkembang sesuai potensinya,” pesannya.

Rumah Tempat Anak Tumbuh

Lanjut Kadisdik Mohamad Iksan. Ia meminta orang tua meninggalkan pola pengasuhan otoriter.

Setiap anak, kata dia, membawa kemampuan dan potensinya sendiri. Karena itu, pencapaian orang tua tidak semestinya diwariskan dalam bentuk target yang harus dituntaskan anak.

“Anak tidak harus ditarget memiliki kemampuan yang sama dengan orang tuanya,” ujarnya.

Yang perlu dibangun menurutnya justru rumah yang memberi ruang kepada anak untuk berkembang.

Halaqah itu berakhir menjelang rangkaian kegiatan ditutup dengan doa. K. Munir, guru sepuh Madrasah Al-Huda, memimpin doa sebelum peserta, guru, dan pembicara berkumpul untuk berfoto.