Dadang mengatakan langkah tersebut ditempuh untuk memastikan BBM bersubsidi dapat disalurkan secara tepat sasaran kepada masyarakat yang berhak menerima.
Ia juga mengimbau masyarakat yang memiliki kendaraan mewah agar menggunakan BBM nonsubsidi.
“Karena BBM bersubsidi hanya untuk masyarakat miskin,” tuturnya.
Dadang mengatakan salah satu faktor yang turut memengaruhi meningkatnya kebutuhan BBM bersubsidi adalah perpindahan sebagian konsumen dari Pertamax ke Pertalite.
Peralihan tersebut terjadi setelah harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan cukup signifikan.
“Terlebih, pada tanggal 1 September 2026 beberapa jenis BBM kembali mengalami kenaikan lagi,” tandasnya.
Pemkab Sumenep juga menyiapkan langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak kelangkaan BBM terhadap harga kebutuhan masyarakat.
Salah satunya melalui operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah di sejumlah pasar tradisional.
Menurut Dadang, pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap kelancaran distribusi barang menggunakan kendaraan angkutan.
Langkah ini dirinya berharap dapat menjaga pasokan kebutuhan masyarakat tetap berjalan ke berbagai wilayah di Kabupaten Sumenep.

