Selain menjadi ruang belajar, keterlibatan tersebut juga memberi kebahagiaan tersendiri bagi penyelenggara karena generasi muda turut mengambil bagian dalam kegiatan seni dan budaya.

“Seniman dari tingkat sekolah dasar juga patut kita banggakan. Ini menjadi pengalaman bagi anak untuk berkarya, kemudian karyanya dipamerkan dan diapresiasi masyarakat,” katanya.

Apresiasi terhadap kehadiran seniman cilik Sumenep juga datang dari Adeline Mong-Minap Poufong, seniman berlatar belakang Irlandia dan Kamerun yang tinggal di Vancouver, Kanada. 

Ia turut menaruh perhatian pada keterlibatan siswa sekolah dasar dalam pameran tersebut.

Kehadiran seniman dari beragam latar belakang itu memperlihatkan bahwa Cipta Rupa Simbol Vol. II menjadi ruang pertemuan berbagai perspektif dalam memaknai seni dan kebudayaan. 

Tradisi perkerisan tidak hanya ditampilkan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadi medium bagi generasi muda dan seniman lintas budaya untuk menyampaikan gagasan melalui karya visual.

Dalam proses penciptaan, para peserta menggunakan warangka pangkon dengan dukungan cat, palet, dan kuas. 

Mereka juga diperbolehkan menyiapkan sketsa serta konsep sebelum kegiatan berlangsung agar proses pengerjaan karya lebih efektif.

Selain Ana Syifaul Millah Arsa, sejumlah seniman yang terlibat dalam pameran ini antara lain Lenora Maulina, Farah Najat Izzati, Kevin Febriyano Gunawan, Misnaya, Sumantri Hotsu, dan Thofa. Pameran tersebut dikuratori Raymizard Alifian Firmansyah.

Sementara itu, Kepala Disbudporapar Sumenep, Faruk Hanafi, menegaskan bahwa pameran dan bursa keris tidak hanya menjadi sarana merawat warisan budaya, tetapi juga berpotensi menggerakkan ekonomi kerakyatan.