Dikisahkan, bahwa pada suatu malam, saat Nyai Aqidah berada di tepi Sungai Barito, Pandian, beliau bermimpi sedang dikejar Mobil Merah.
"Di dalam Mobil Merah itu ada cucu saya, Arif, yang saat ini berumur 24 tahun, dan saat ini mimpi itu insya Allah akan jadi kenyataan. Insya Allah, karena Sungai Barito tidak akan pernah kering airnya," tutur Nyai Aqidah.
"Saya ini adalah orang hijau, tetapi dalam Mobil Merah itu ada cucu saya, kan ndak mungkin saya meninggalkan cucu saya," ujarnya.
Mimpi yang kedua, Nyai Aqidah mengutarakan, kala itu dirinya tengah berada di kegelapan dan hendak menyeberang.
"Tetapi dalam kegelapan, bagaimana saya mau menyeberang? Nah, ternyata di depan ada jembatan dan ternyata lampunya Merah," katanya.
BACA JUGA: Diskusi Politik Jong Sumekar: Ganti Bupati Sumenep atau Jangan? https://dimadura.id/diskusi-politik-jong-sumekar-ganti-bupati-atau-jangan
Bagi Nyai Aqidah, dua mimpi itu merupakan petunjuk untuk sang putri, Nyai Hj Dewi Khalifah, bahwa jika mau maju kembali sebagai Bacawabup Sumenep hendaknya melalui jembatan PDI Perjuangan, partai dengan warna dominan merah.
"Pokoknya Eva ini, dimanapun kamu berpijak dimanapun langit kamu junjung, harus kamu itu menyesuaikan dengan keadaan," pesan sang ibunda untuk sang putri, Nyai Hj. Dewi Khalifah.
"Mudah-mudahan itu juga menjadi pertanda bukan kemenangan, tapi keunggulan, dan yang namanya unggul itu pasti ada di atas," pungkas Nyai Aqidah Usymuni.***

