Ika Arista lalu menegaskan bahwa keris bukan sekadar benda mati, melainkan media yang menyimpan harapan dan makna mendalam.

“Bukankah kita memang tidak bisa hidup sendiri? Keris menyimpan banyak pesan dan harapan yang bisa digali lebih dalam,” katanya.

Filosofi Keris: Lebih dari Sebuah Pusaka 

Keris tidak hanya dikenal sebagai senjata tradisional, tetapi juga sebagai "teman hidup" yang menyatu dengan pemiliknya. Dalam konsep ini, keris berperan sebagai pengingat dan penguat bagi individu untuk menjalani hidup dengan lebih percaya diri. Bagi seorang empu seperti Ika Arista, tanggung jawab ini sangat berat, karena setiap keris yang dibuat bukan hanya karya seni, tetapi sebuah harapan hidup bagi pemiliknya.

Di tangan seorang empu, keris menjadi simbol keabadian dan pelindung spiritual. Tradisi ini menekankan bahwa setiap manusia memerlukan sesuatu untuk menopang batin dan harapannya—sesuatu yang terwujud dalam keris sebagai teman hidup. Filosofi mendalam ini menggambarkan bahwa dalam setiap karya empu, tersimpan pesan bahwa hidup, seperti halnya keris, harus selalu dijalani dengan keseimbangan dan makna.

Kesan Deni Puja kepada Empu Ika Arista

Bagi Deni, karya Ika Arista menyimpan estetika lebih dari sekadar seni rupa, bahwa nilai spiritual keris menurutnya jauh melampaui karya seni biasa.

“Estetika keris hasil empu perempuan ini, menurutku, lebih estetik daripada penampilan seorang artis sekaliber Agnes Monica sekalipun,” kesan Mana Mana Deni Puja Pranata.***