Pemerintah Kabupaten Bangkalan kemudian mengambil langkah tegas dengan membangun gedung museum permanen seluas 2.709 meter persegi sebagai upaya pelestarian warisan budaya.

Di dalam museum, pengunjung akan menemukan ragam koleksi yang merepresentasikan kekayaan budaya Madura. Mulai dari kain batik khas, peralatan membatik, kereta kuda, miniatur perahu, alat musik tradisional Gamelan Ratna Dumila, hingga benda-benda etnografi seperti bokor, menangan, dan kentongan.

Seluruh koleksi tersimpan dalam ruang-ruang yang tertata rapi, didukung fasilitas seperti ruang pameran tetap, ruang penyimpanan, bengkel preparasi, ruang studi koleksi, hingga tempat ibadah dan area parkir.

Namun, di balik kelengkapan fasilitas dan kekayaan budaya yang ditawarkan, Museum Cakraningrat masih menghadapi tantangan besar: sepinya pengunjung.

Data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan menunjukkan, dalam empat bulan pertama tahun 2024, hanya 372 orang yang tercatat berkunjung.

Jumlah tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan total populasi Bangkalan yang mencapai lebih dari satu juta jiwa.

Bahkan tahun sebelumnya, jumlah pengunjung sepanjang 2023 hanya mencapai 1.031 orang—setara 0,035 persen dari total penduduk.

Pamong Budaya Ahli Muda Disbudpar Bangkalan, Tri Kusumawati, mengakui bahwa rendahnya minat kunjungan menjadi pekerjaan rumah tersendiri. “Sebagian besar pengunjung adalah pelajar, mulai dari PAUD hingga mahasiswa,” jelasnya kepada JPRM, 14 Juni 2024.

Tri Kusumawati, yang akrab disapa Cicik itu menambahkan, bahwa berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan animo masyarakat. Di antaranya dengan menggelar lomba vlog museum, permainan tradisional, hingga merencanakan pameran budaya.

Senada dengan itu, budayawan Bangkalan, Hidrochin Sabarudin, menilai rendahnya angka kunjungan sebagai tantangan yang harus dijawab dengan inovasi. “Mengelola museum tidak bisa dengan cara biasa. Harus punya ide-ide segar,” katanya.