SITUS, DIMADURA - Masjid Laju Sumenep, atau yang dalam bahasa Madura disebut Masegit Laju, merupakan salah satu peninggalan sejarah yang mencerminkan perkembangan Islam di wilayah Sumenep.

Masjid ini memiliki nilai historis yang tinggi karena menjadi salah satu pusat penyebaran Islam pada masanya.

Dengan arsitektur khas Jawa kuno yang masih terjaga keasliannya, masjid ini tetap berdiri kokoh sebagai bagian dari warisan budaya yang penting bagi masyarakat Sumenep.

Sejarah Pembangunan Masjid Laju

[caption id="attachment_11652" align="aligncenter" width="700"]Suasana di dalam Masjid Laju Sumenep, Jumat malam tanggal 28 Maret 2025 (Foto: Mazdon/Doc. Dimadura) Suasana di dalam Masjid Laju Sumenep, Jumat malam tanggal 28 Maret 2025 (Foto: Mazdon/Doc. Dimadura)[/caption]

Masjid Laju didirikan pada sekitar tahun 1640 Masehi oleh Pangeran Anggadipa, yang saat itu menjabat sebagai penguasa Sumenep.

Pangeran Anggadipa merupakan salah satu pemimpin yang dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap perkembangan agama Islam di daerahnya.

Pendirian masjid ini menandai awal berkembangnya pendidikan agama Islam di Sumenep, terutama melalui sistem pendidikan non-formal seperti pengajian dan pembelajaran Al-Qur'an yang diselenggarakan di dalam masjid.

Pada masanya, Masjid Laju menjadi pusat keagamaan utama di Sumenep. Di sinilah para santri dan masyarakat umum mendalami ilmu agama dan memperkuat pemahaman mereka tentang Islam.

Tidak hanya itu, masjid ini juga menjadi tempat berkumpulnya tokoh-tokoh agama, ulama, serta pemimpin daerah untuk membahas berbagai isu keagamaan dan sosial.

Namun, seiring berjalannya waktu, Masjid Laju mulai kehilangan perannya sebagai masjid utama ketika Masjid Agung Sumenep dibangun pada tahun 1779 Masehi oleh Panembahan Natakusuma I.

Masjid Agung ini menggantikan fungsi Masjid Laju dalam menyelenggarakan kegiatan keagamaan tingkat kabupaten, meskipun Masjid Laju tetap dipertahankan sebagai salah satu tempat ibadah yang bersejarah.