Keunikan Arsitektur Masjid Laju

[caption id="attachment_11651" align="aligncenter" width="700"]Seorang pria bersujud menunggu jamaah salat tarawih Ramadan 2025 Seorang pria bersujud menunggu jamaah salat tarawih Ramadan 2025 (Mazdon/Doc. Dimadura)[/caption]

Dari segi arsitektur, Masjid Laju masih mempertahankan gaya bangunan Jawa kuno, yang memiliki karakteristik khas dalam desain dan strukturnya.

Bangunan utama masjid ditopang oleh empat tiang utama yang dikenal sebagai "saka guru", yang berfungsi sebagai penyangga atap.

Tiang-tiang ini masih terjaga keasliannya hingga kini, menjadi saksi bisu perjalanan panjang masjid ini dari abad ke-17.

Di bagian atas tiang-tiang tersebut terdapat balok kayu melintang, yang semakin memperkuat struktur masjid.

Salah satu elemen paling khas dari masjid ini adalah tiga buah mihrab yang masih berdiri utuh dalam kondisi asli.

Mihrab ini menjadi tempat imam dalam memimpin shalat dan menjadi salah satu elemen penting dalam desain masjid tradisional.

Gaya atap tumpang yang digunakan dalam masjid ini juga mencerminkan pengaruh arsitektur Jawa tempo dulu.

Atap semacam ini sering ditemukan dalam desain masjid-masjid kuno di Nusantara dan mencerminkan kesinambungan budaya antara Islam dan tradisi lokal.

Di bagian utara bangunan utama, terdapat sebuah menara kecil yang dulunya digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan.

Selain itu, terdapat pula beduk kuno yang masih menghiasi teras masjid, menambah nuansa klasik dan autentik dari bangunan ini.