Doa Lintas Iman dan Dedikasi untuk Tanah Air
Doa lintas iman dipanjatkan secara bergantian oleh KH Fauzan Malik dari kalangan Muslim, lalu dilanjutkan oleh Romo Cornelis dari Katolik. Momentum spiritual ini terasa khidmat, mempertemukan perbedaan dalam semangat persatuan.
Puncaknya adalah saat Difo, perwakilan pemuda, membacakan teks Dedication of Life karya Ir. Soekarno, sebagai pengingat nilai-nilai pengabdian yang hakiki dalam hidup berbangsa:
Dedication of Life – Ir. Soekarno
"Saya sebagai manusia biasa, saya tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Hanya kebahagiaanku ialah, mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada Bangsa. Itulah dedication of life-ku. Jiwa pengabdian inilah yang menjadi falsafah hidupku, dan menikmati serta menjadi bekal dalam seluruh gerak hidupku. Tanpa jiwa pengabdian ini, saya bukan apa-apa. Tetapi dengan jiwa pengabdian ini, saya merasakan hidupku bahagia dan manfaat." (Ir. Soekarno, 10 September 1966)
Teks tersebut menggema dalam gelap hening ruangan, menggetarkan hati para hadirin yang larut dalam semangat pengabdian universal.
Simbol Lilin: Suluh Keadilan di Tengah Gelapnya Harapan
[caption id="attachment_14588" align="aligncenter" width="680"]
Romo Cornelis Baca Doa Katolik | Suasana Perayaan YPSBK Madura atas Amnesti Presiden Prabowo Subianto atas Hasto Kristiyanto dan tokoh nasional lainnya di Ruang Temu Kafe Tanean (Foto: Mazdon / Doc. Dimadura)[/caption]
Sebagai penanda simbolik, lilin-lilin dinyalakan bersama-sama oleh tokoh lintas iman. Menurut Darul, tindakan ini bukan semata seremoni, tapi makna mendalam tentang cahaya harapan.
"Rasanya keadilan itu adalah suluh keadaan yang kita harapkan. Di tengah gelapnya harapan, masih ada secercah cahaya," ujarnya usai acara.
Ia menambahkan, Hasto Kristiyanto dan Tom Lembong menjadi simbol bahwa negara ini masih mungkin memberi ruang pada keadilan dan kejujuran politik.

