SUMENEP, DIMADURAHalaqah parenting di Madrasah Al-Huda, Gapura, mengajak orang tua berhenti membebani anak dengan ambisi menjadi juara. Kebahagiaan anak dinilai lebih penting sebelum mengejar prestasi.

Salah satu narasumber, Nunung Fitriana, menyampaikan, haflatul imtihan sebaiknya menjadi ruang bagi anak menunjukkan bakat. Tapi di sebagian keluarga, hajatan akhir tahun pelajaran itu kerap berubah menjadi arena adu prestasi.

Anak dituntut menjadi juara. Dibandingkan dengan teman sebaya. Kadang pula dibebani harapan orang tua yang kelewat tinggi.

“Anak harus bahagia terlebih dahulu, baru kemudian bisa berprestasi,” kata Nunung, dalam halaqah bertema Mendampingi Tumbuh Kembang Anak Tanpa Tekanan dan Perbandingan di halaman Madrasah Aliyah Al-Huda, Desa Gapura Timur, Kecamatan Gapura, Sumenep, Selasa (4/8).

Wali siswa baru, dari jenjang pendidikan anak usia dini hingga madrasah aliyah, memenuhi halaman madrasah. Turut hadir, Kadisdik Sumenep Mohamad Iksan. Sejumlah guru dan abdi Al-Huda ikut hadir.

Sekolah: Ruang Asah Bakat atau Kejar Prestasi?

BAGI Nunung, kekeliruan memahami prestasi masih kerap terjadi, terutama ketika orang tua menjadikan keberhasilan anak lain sebagai ukuran bagi anaknya sendiri.

Di desa, menurut dia, salah satu contohnya terlihat dalam cara sebagian orang tua memandang haflatul imtihan.

Imtihan akhirnya dianggap sebagai panggung untuk membuktikan siapa yang paling unggul.

Padahal, kata Nunung, kegiatan itu seharusnya menjadi kesempatan untuk mengasah dan menampilkan bakat anak.

Tekanan semacam itu menjadi lebih berisiko ketika diberikan pada masa golden age. Pengalaman buruk dalam belajar, menurut Nunung, dapat membekas pada anak.

Karena itu, praktisi pendidikan anak usia dini itu meminta orang tua mengasuh dengan hati. Target terhadap anak juga mesti diimbangi dengan daya dukung yang memadai.

Orang tua yang menginginkan anak menguasai bidang tertentu, misalnya, perlu menyediakan lingkungan belajar, media, dan sarana yang sesuai.

Nunung melihat pola pengasuhan juga berubah antargenerasi. Orang tua dari generasi milenial, menurut dia, cenderung lebih otoriter. Sedangkan generasi Z dinilainya lebih kreatif dan humanis.

Tapi generasi yang terakhir punya persoalan lain. Banjir informasi digital. Informasi begitu mudah diterima dan diteruskan sebelum sempat dianalisis.

Mengasuh dengan Getaran Batin

Nunung merumuskan lima hal yang perlu dilakukan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak: menentukan tujuan, memperbarui pengetahuan, mengasah metode pengasuhan, menempatkan anak sebagai subjek yang interdependen, serta membangun apa yang ia sebut sebagai “vibrasi”.

Pada tahap pengasuhan, keteladanan, komitmen, dan konsistensi orang tua menjadi penting. Sedangkan vibrasi, ia artikan sebagai getaran batin orang tua kepada anak.

“Orang tua harus menggetarkan batinnya dengan doa yang baik kepada anak,” ujarnya.

Pesan agar orang tua tidak menyerahkan seluruh urusan pendidikan kepada sekolah juga disampaikan Ketua Yayasan Miftahul Huda, A. Quraisyi.

Al-Huda, kata Quraisyi, sengaja banyak mengundang ibu dalam halaqah tersebut. Alasannya sederhana. Dalam keseharian, ibu umumnya memiliki intensitas interaksi yang lebih tinggi dengan anak.

“Kami berharap orang tua ikut berperan aktif mendidik anak, tidak sekadar menyerahkannya kepada guru,” katanya.

Ia meminta komunikasi keluarga dan madrasah diperkuat. Persoalan pendidikan anak, menurut Quraisyi, sebaiknya dibicarakan bersama antara orang tua dan sekolah ketimbang berkembang menjadi narasi yang tidak jelas di luar lingkungan Al-Huda.

Pendidikan Bermula dari Rumah

Sementara itu, Kadisdik Mohamad Iksan, saat sambutan menyampaikan, bahwa keberhasilan pendidikan anak membutuhkan keterlibatan keluarga. Sekolah menurutnya tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan pola pengasuhan yang baik di rumah.

“Pendidikan anak tidak selesai di sekolah. Orang tua punya peran sangat besar karena rumah adalah tempat pertama anak belajar, membentuk karakter, dan menemukan kepercayaan dirinya,” kata Iksan.

Ia berharap orang tua membangun komunikasi yang baik dengan anak dan sekolah. Target akademik, kata dia, juga perlu mempertimbangkan kemampuan dan potensi masing-masing anak.

“Jangan sampai keinginan kita melihat anak berhasil justru menjadi tekanan bagi mereka. Tugas kita adalah mendampingi, memberi ruang, dan membantu anak berkembang sesuai potensinya,” pesannya.

Rumah Tempat Anak Tumbuh

Lanjut Kadisdik Mohamad Iksan. Ia meminta orang tua meninggalkan pola pengasuhan otoriter.

Setiap anak, kata dia, membawa kemampuan dan potensinya sendiri. Karena itu, pencapaian orang tua tidak semestinya diwariskan dalam bentuk target yang harus dituntaskan anak.

“Anak tidak harus ditarget memiliki kemampuan yang sama dengan orang tuanya,” ujarnya.

Yang perlu dibangun menurutnya justru rumah yang memberi ruang kepada anak untuk berkembang.

Halaqah itu berakhir menjelang rangkaian kegiatan ditutup dengan doa. K. Munir, guru sepuh Madrasah Al-Huda, memimpin doa sebelum peserta, guru, dan pembicara berkumpul untuk berfoto.

Di antara pembicaraan tentang metode pengasuhan, target pendidikan, dan prestasi, pesan yang tersisa hari itu cukup sederhana. Sebelum meminta seorang anak menjadi juara, orang tua perlu memastikan ia masih bahagia menjadi anak-anak. ***