Pangeran Trunajaya sempat bersekutu dengan Amangkurat II dalam perlawanannya terhadap Amangkurat I, ayah Amangkurat II, karena dianggap pro Belanda. Kesepakatan Amangkurat II dengan Trunojoyo adalah agar ayahnya, Amangkurat I, ditangkap saja, bukan dibunuh. Tetapi Trunojoyo tidak mampu menahan amarahnya dan langsung menikam Amangkurat I hingga meninggal.

Trunojoyo menikam Amangkurat II, lantaran dendam karena Pangeran Cakraningrat I (kakeknya) ditikam oleh Pangeran Alit atas siasat licik keluarga Mataram, ditambah karena Adipati Bangkalan, Cakraningrat I, dijadikan adipati boneka dan ditahan di Mataram.

Meskipun awalnya sukses, perlawanan Trunajaya akhirnya mengalami kekalahan. Pada tahun 1679, Trunajaya ditangkap oleh pasukan VOC dan Mataram. Ia kemudian dihukum mati oleh Amangkurat II, penerus Amangkurat I. Tronojoyo ditikam oleh Amangkurat II dengan kerisnya lantaran dendam atas sikap Trunojoyo yang menyalahi kesepakatan bahwa Amangkurat II menginginkan sang ayah ditangkap saja, Trunojoyo malah menikamnya hingga tewas.

Amangkurat II bahkan mengancam akan memotong-motong mayat Trunajaya. Saat ditusuk, Trunajaya sempat berkata bahwa jika tubuhnya dipotong, maka kelak Pulau Jawa akan terpotong juga.

Kata-kata Trunajaya terbukti, pada 13 Februari 1755, dengan adanya Perjanjian Gianti yang membagi Kesultanan Mataram menjadi tiga bagian: Susuhunan Pakubuwono II yang mendapat Surakarta, Mangkubumi yang mendapat Yogyakarta bergelar Sultan Hamengkubuwono I, dan bagian pesisir utara Jawa serta Madura yang menjadi kekuasaan Belanda.

Jasad Trunajaya dikubur tanpa pusara di tangga masuk makam Imogiri, tempat yang selalu terinjak oleh keturunan raja setiap kali mereka datang ke makam keluarga.

Dampak Pemberontakan Trunajaya pada Kerajaan Mataram

Kolase Lukisan Raden Trunajaya atau Pengeran Trunojoyo karya D Zawawi Imron yang sudah menjadi milik Universitas Trunojoyo Madura dengan latar gambar perang dengan Kerajaan Mataram yang bersekutu dengan VOC (Sumber: Tadjul Arifien R for dimadura.id)

Pemberontakan Trunajaya memiliki dampak besar terhadap Kesultanan Mataram. Pemberontakan ini memperlihatkan kelemahan pemerintahan Amangkurat I dan mengungkap ketidakpuasan rakyat terhadap kepemimpinannya.

Meskipun akhirnya berhasil dipadamkan, pemberontakan ini mengakibatkan melemahnya kekuasaan Mataram dan membuka jalan bagi campur tangan VOC dalam urusan internal Mataram. Akibatnya, Mataram semakin tergantung pada VOC dan kekuasaannya semakin merosot.

Kesultanan Mataram dan Pecahan-Pecahannya