Tongtong Raden Ageng membuktikan bahwa tradisi tetap bisa menarik perhatian generasi muda. Grup yang terdiri dari 40 anggota ini sebagian besar diisi oleh anak-anak muda yang membawa energi baru dalam setiap penampilan mereka.

Hiburan tambahan berupa can-macanan—replika harimau yang dimainkan empat orang—menjadi daya tarik tersendiri.

Muh. Adim Mardiyono, pemilik can-macanan, menjelaskan bahwa awalnya hiburan ini dibuat hanya untuk mengisi waktu luang. “Awalnya hanya iseng untuk mengisi waktu luang, tapi ternyata menambah kemeriahan grup ini,” ungkapnya.

Keberadaan anak muda dalam grup ini bukan sekadar formalitas. Mereka menjadi motor penggerak yang menghadirkan inovasi dalam seni tradisional, menjadikannya relevan di tengah tantangan zaman yang terus berubah.

Menghidupkan Tradisi, Membangun Ekonomi

Bagi Tongtong Raden Ageng, pelestarian tradisi tidak berhenti pada aspek seni. Grup ini juga menjadikan musik tongtong sebagai peluang ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi anggotanya.

Dalam satu kali tampil, mereka mematok tarif Rp3,5 juta untuk siang hari dan Rp4,5 juta pada malam hari. Jika melibatkan can-macanan, ada tambahan biaya sebesar Rp300 ribu per unit.

Meski biaya produksi alat musik dan dekorasi mencapai Rp80 juta, Ipung menegaskan bahwa investasi ini sepadan.

“Dekor ini pesan, di Pasongsongan juga ada, saya pesannya ini di Legung. Sistemnya borongan, bahan dan sebagainya sudah dari sana. Sekitar Rp65 jutaan itu lah. Sisanya, alat-alatnya itu sekitar Rp15 juta itu dah,” ungkap Ipung.

Penampilan mereka telah menghiasi berbagai acara lokal, mulai dari hajatan hingga kegiatan sosial seperti suntikan balita.