OBITUARI, DIMADURA – Ketika Jepang mendarat di Pulau Madura, keadaan masyarakat miskin semakin memprihatinkan. Jepang merampas hasil pertanian sehingga masyarakat banyak yang kelaparan.
Keadaan ini berpengaruh terhadap keadaan pondok pesantren sehingga banyak santri yang pulang kampung. Namun demikian, keadaan pengajian maupun kegiatan ritual lainnya di pondok tetap berlangsung.
Kegiatan semacam ini terus berlanjut hingga ketika tentara Belanda kembali lagi ke Indonesia pada tahun 1947. Selanjutnya semua kegiatan pengajian kitab kuning terhenti sementara ketika tentara Belanda datang lagi.
Sebagai seorang tokoh masyarakat dan ulama, Kyai Abdullah Sajjad yang dikenal dengan “Kiai Latèè†dari Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu meringankan beban yang diderita masyarakat.
Beliau tidak bisa berpangku tangan melihat masyarakat yang sedang berada dalam keadaan sengsara.
Karena tuntutan situasi itulah, Kyai Abdullah Sajjad kemudian memfokuskan kegiatannya pada perjuangan melawan tentara Belanda dengan cara bergerilya.
Beliau beranggapan bahwa penjajahlah yang menyebabkan bangsa ini sengsara, merekalah sumber malapetaka di mana-mana.
Pendidikan untuk sementara ditinggalkan dan pesantren berubah fungsi menjadi markas tentara dan tempat menyusun strategi perang, sedangkan para santri (terutama yang masih kecil) dianjurkan untuk pulang.
Kemudian mengkoordinir kelompok pejuang yang dikenal dengan sebutan Barisan Sabilillah.
Begitu tentara Belanda menguasai wilayah Guluk-guluk, maka Kyai Abdullah Sajjad mengungsi ke Dusun Brumbung, Pragaan.

