Waktu itu para anggota Sabilillah beserta para santri menyampaikan keinginan mereka untuk ikut bersama-sama mendampinginya, karena mereka khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Akan tetapi, permintaan mereka tidak dikabulkan oleh beliau, dan mengatakan bahwa semua urusan dengan pihak Belanda akan diselesaikannya sendiri, dan berharap kepada santri beserta yang lainnya untuk tetap tenang.
Berangkatlah Kyai Abdullah Sajjad dengan diiring oleh tentara Cakra dan Belanda menuju ke markasnya di Kemisan untuk memenuhi permintaan Belanda.
Beliau tidak ingin menjadikan santri dan masyarakat sebagai korban kekejaman Belanda.
Walaupun firasatnya mengatakan bahwa Belanda akan berbuat curang, namun beliau tetap bersikukuh untuk bersikap jantan.
Setelah keberangkatan beliau, suasana pondok pesantren tetap berada dalam keadaan tenang sekalipun dalam perasaan mereka diliputi kecemasan.
Setelah K. Abdullah Sajjad berada di markas Belanda, ternyata disodori surat “Menyerahkan Diri kepada Belanda†untuk ditanda-tanganinya, tapi ditolaknya sehingga menimbulkan kemarahan Belanda.
Bahkan beliau rela menebusnya dengan nyawanya sendiri dari pada menuruti kemauan penjajah.
[caption id="attachment_13889" align="aligncenter" width="680"]
Makam Kyai Abdullah Sajjad di Komplek Pemakaman Keluarga Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep. Di sebelahnya ada Monumen Bendera Merah Putih dari besi, pertanda sebagai Pahlawan Nasional (Foto: Tadjul Arifien R/Doc. Dimadura)[/caption]
Ketika itu beliau ditembak hingga dua kali tapi tidak mempan, dan kebetulan di sana ada beberapa orang mata-mata Belanda (orang pribumi) yang mengetahui kelemahannya, dan memberitahukan bahwa beliau akan tembus peluru bila ditembak dari lidahnya.
Setelah merasa bahwa dirinya akan menemuhi ajal, maka K. Abdullah Sajjad meminta idzin kepada Belanda agar diberi kesempatan melaksanakan salat sunnah.

