Bahkan ketika tentara Belanda tidak bisa dibendung lagi dan mulai memasuki wilayah Sumenep, dan pesantren sempat ditinggal selama kurang lebih 4 bulan.
Pada suatu ketika di tempat pengungsian, ada utusan Belanda menyampaikan surat dari IVG (Inlichtingen Velligheids Groep) yang isinya:
“Saudara Sajjad, silahkan pulang kampung kami tidak akan menahan saudaraâ€.
Karena ada jaminan surat dan setelah situasi dianggap aman, maka K. Abdullah Sajjad beserta rombongan kembali ke Guluk-guluk.
Pada sore itu, ketika baru saja pulang dari pengungsiannya, beliau melaksanakan salat ashar di mushalla Latee bersama-sama dengan para jamaah.
Sebagian masyarakat yang tahu atas kembalinya beliau dari pengungsian, datang berduyun-duyun untuk sowan.
Saat itu, tidak ada tanda-tanda bakal terjadi sesuatu. Setelah selesai menunaikan Shalat ‘Ashar', suasana tetap tenang sebagaimana biasa.
Tapi ketika usai shalat maghrib, sekitar tujuh orang Cakra dengan tentara Belanda datang menghadap beliau seraya meminta kepada K. Abdullah Sajjad agar bersedia untuk ikut serta ke markas Belanda di Kemisan.
Secara spontanitas H. Abd. Hamid berdiri dan mengatakan bahwa dirinya yang dimaksud oleh Belanda.
Namun Kyai Abdullah Sajjad langsung berdiri dan mengakui bahwa yang dicari adalah dirinya.

