Setelah diteliti, ternyata benar bahwa sosok tubuh yang tergeletak tak bernyawa itu adalah Kyai Abdullah Sajjad.
Mereka masih belum berani mengambil jasadnya karena dijaga ketat dan menunggu kesempatan yang aman.
Pada kesempatan baru datang setelah hampir adzan subuh, akhirnya mereka memberanikan diri untuk mengambil jasad Kyai Abdullah Sajjad yang pada saat itu pengawasan dari tentara Belanda agak mulai mengendor.
Selanjutnya, jasad beliau dibawa ke Sawajarin, atas saran KH. Mahfudz Husaini kemudian dibawa ke Latee.
Suasana di Latèè meskipun dalam suasana berkabung, namun tetap tenang seakan tidak terjadi sesuatu.
Hal itu memang sengaja dilakukan dengan tujuan ingin mengelabuhi pihak tentara Belanda, dan agar mereka tidak curiga dan tak mengira bahwa jasad K. Abdullah Sajjad telah diambil.
Keesokan harinya, tentara Belanda meninggalkan daerah Guluk-guluk dan bergerak ke arah timur, menuju Sumenep.
Rupanya mereka khawatir akan adanya perlawanan dari pihak Barisan Sabilillah, santri, dan masyarakat simpatisan.
Beliau dimakamkan di komplek pemakaman keluarga Ponpes Annuqayah Guluk-guluk.
Di dekat pusaranya diberi tanda bendera merah putih dari besi oleh Pemerintah, karena mendapatkan anugerah Bintang Gerilya sebagai Pahlawan Nasional.

